Tuesday, April 11, 2006

Cantik

Eric Sasono

Stephen Marquadt baru berumur 4 tahun ketika ia mendapat kan kejutan yang menjadi trauma seumur hidupnya. Ia dibawa oleh bibi dan neneknya melihat ibunya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas. Stephen tak mengenali wajah mengerikan itu. Ketika dewasa Stephen menggambarkannya sebagai wajah si ibu bengkak dengan darah melebamkan wajah, bibir yang koyak dan jahitan di mana-mana. Stephen pun keluar ruangan sambil menjerit keras ketakutan.
Ini ibu, Stevie, kata ibunya sambil menangis.
Tapi Stephen tak mudah ditenangkan. Berminggu-minggu ia tak bisa menerima kenyataan itu. Bahkan ia juga kehilangan kepercayaan terhadap bibi dan neneknya yang membawanya menemui tragedi tersebut.
Sampai akhirnya Stephen dewasa dan membawa cerita itu ke dalam hidupnya. Stephen Marquadt akhirnya memutuskan untuk menjadi dokter bedah plastik.

Pertanyaan itu terus menghantui Stephen: apa sesungguhnya makna cantik itu? Berangkat dari trauma masa kecilnya, Stephen mencoba menjawab pertanyaan terbesar hidupnya itu. Ia mendedikasikan diri untuk mencari jawaban atas salah satu pertanyaan terbesar manusia yang kerap ditanyakan diam-diam. Benarkan kecantikan ada di mata orang yang memandangnya? Ataukah ada sebuah standar ukuran universal untuk sebutan cantik itu?

Stephen mulai dari seorang filsuf Yunani bernama Phytagoras. Kita kenal Phytagoras lewat rumusannya tentang segitiga sama sisi. Sisi tegak lurus sebuah segitiga (a) jika dikuadratkan sama dengan jumlah kedua sisinya (b dan c) kuadrat.
Begini rumusnya:
a2 = b2 + c2

Namun Stephen Marquadt membaca lebih jauh dari Phytagoras. Bahwa rumusan ini bukan sekadar untuk segitiga. Phytagoras mencoba menemukan sebuah rumusan tentang komposisi yang membentuk kecantikan. Rumusan di atas berlaku untuk segitiga, tetapi sebenarnya ada rumusan universal untuk sebuah komposisi yang baik untuk apapun. Marquadt mencoba menemukan hal itu.

Dan ia menemukannya.
Lewat seorang Italia bernama Leonardo DaVinci. DaVinci mungkin terkenal lewat lukisan Monalisa. Namun dari filsuf serbabisa inilah Marquadt menemukan sebuah perbandingan universal antara bagian-bagian tubuh manusia yang memperlihatkan pengulangan-pengulangan perpandingan itu.

Angka perbandingan itu adalah 1:1,168 (satu berbanding satu koma seratus enampuluh delapan)

Maksudnya, setiap satu satuan, maka ukuran berikutnya adalah 1,168. Ambil contoh tubuh. Bagi dua tubuh manusia di bagian pusar. Jika jarak ujung kaki ke pusar, katakanlah, satu meter, maka tubuh orang akan terlihat proporsional ketika ukuran dari pusar ke ujung kepala sepanjang 1,168 meter.

Hal ini juga berlaku dengan wajah. Jika lebar bibir adalah satu satuan, maka jarak ujung bibir ke tepi pipi harus 1,168. Pola ini akan terus berulang-berulang-berulang di seluruh tubuh manusia. Stephen Marquadt menemukan perbandingan ini.

Untuk kemudahan pekerjaannya sebagai ahli bedah plastik, Marquadt kemudian membuat semacam “topeng”. Topeng itu adalah perbandingan-perbandingan jarak antar bagian wajah untuk memperlihatkan apakah seseorang akan dianggap cantik (atau tampan) atau tidak. Ketika topeng itu dipasangkan di wajah Tom Cruise atau Elizabeth Hurley, topeng itu seratus persen cocok. Topeng itu dibuat di atas plastik transparan yang memperlihatkan garis-garis untuk memeriksa bagian wajah mana saja yang tidak cocok dengan perbandingan-perbandingan tersebut untuk kemudian akhirnya didandani oleh Marquadt.

Hasilnya luar biasa. Pekerjaan Marquadt terbantukan. Lewat topeng itu, ia punya gambaran seperti apa sebuah wajah seharusnya dipermak.

Akhirnya pekerjaan Stephen Marquadt ini memang mengimplikasikan sebuah jawaban penting terhadap kecantikan: benar, kecantikan itu universal. Mungkin ini bukan kabar baik bagi beberapa orang. Orang yang ingin menjadi cantik (atau tampan). Namun letak persoalan memang di sini, bukan pada apakah ukuran itu universal atau tidak.

Karena seperti kata George Orwell: seorang manusia bertanggungjawab terhadap wajahnya sesudah ia berumur 40 tahun. Artinya? Apa yang dihasilkan masa tua adalah buah dari sikap yang sudah dipelihara selama bertahun-tahun. Jika sepanjang hidup, seseorang bertindak bijaksana, maka itulah yang dituai. Jika sepanjang hidup orang memperlihatkan kasih sayang, maka wajahnya akan terlihat menjadi cermin bagi kasih sayang yang tersebar kemana-mana.

(tulisan ini sepenuhnya terinspirasi dari siaran dokumenter BBC, Face, edisi ketiga)

Friday, April 01, 2005

Utang

Tiba-tiba saya bernafsu untuk menulis sebuah novel.

Astaga! Sebuah proyek baru? Kenapa tak mengerjakan yang sudah lama direncanakan? Bukankah ada "Orang Awam Menonton Film", "Down and Dirty Pictures versi Indonesia", kumpulan artikel tentang film dan sebagainya.

Mungkin karena saya baru saja menyelesaikan novel Catatan Akhir Sekolah. Novel ini saya tulis sebagai pesanan. Aris dan Hendro mengerjakan skenarionya. Kemudian Aris meminta saya menulis novelnya. Saya teringat tawaran pertama menovelkan Brownies. Waktu itu saya tolak karena waktunya tak realistis. Juga temanya yang not my cup of tea. Akhirnya ditulis Fira Basuki dan sukses karenanya. Rudy Gunawan dari Gagas Media memberitahu bahwa pemasarannya lumayan.

Tawaran kali ini lebih realistis waktunya. Juga temanya lebih bisa saya candak. Maka saya ambillah. Tak mudah ternyata. Tak mudah. Pertama, energi saya tak sebesar yang saya kira. Saya menemukan banyak rintangan internal dan sulit mengatasinya. Kemalasan, kebuntuan kreatifitas dan seterusnya. Ternyata determinasi adalah hal esensial dalam menulis. Kedua, ternyata saya sudah jauh sekali dengan masa SMA, seperti tema buku itu. Saya kehilangan gambaran yang hidup. Juga ungkapan yang pas. Saya sudah generasi yang berbeda. Namun yang kedua ini lebih mudah saya atasi bila saya lebih persistent, ngotot. Kalau saya mau lebih rajin riset dan jalan, tentu ini sama dengan mengumpulkan materi dalam membuat sebuah berita atau feature, yang dulu jadi makanan saya setiap hari.

Namun akhirnya selesai juga. Dengan sejuta lebih kekurangan. Saya sama sekali tak puas. Tapi memang itu target saya. Menyelesaikan. Tiba-tiba soal menyelesaikan proyek besar jadi penting. Tidak tiba-tiba karena sejak lama ini jadi masalah saya. Banyak ide, proyek, ambisi, cita-cita, obsesi, yang kesampaian? Film pendek berjudul 4 Sisi. Juga novel CAS ini. Lumayan. Namun lumayan memang tidak cukup, paling tidak buat saya.

Saya merasa bisa membuat sesuatu yang lebih baik, lebih besar, lebih monumental dalam ukuran saya. Bukan masterpiece, tapi sekadar mencapai titik ideal yang --menurut saya-- saya miliki. Tapi mengapa tidak pernah ada juga karya semacam itu? Atau jangan-jangan karya-karya itulah titik ideal saya? Jangan-jangan saya memang cuma segitu?

Jangan-jangan.
Tapi ambisi dan sebagainya ini masih terpelihara. Saya masih ingin menulis seperti Snow-nya Orhan Pamuk atau Vernon God Little-nya DBC Pierre. Ambisius ya? Memang ambisi ini saya terus pelihata. Bagai batubara di bukit Soeharto, Kalimantan Timur. Saya tinggal menunggu waktu untuk mengoreknya dari dalam tanah. Tapi kapan? Jam terus berdetak dan argo terus jalan. Sempatkah saya mengorek batubara itu? Bisakah ambisi saya kesampaian?

Saya teringat mendiang TB Simatupang. Saya mengerti mengapa ia memberi judul memoarnya dengan "Saya Orang Yang Berutang". Apakah itu kalimat terakhir yang diucapkannya ketika meninggal?


Banda Aceh
31 Maret 2005

Tuesday, February 22, 2005

Lingkaran

Selalu saya tiba di posisi ini: memilih.
Seorang teman yang tidak terlalu akrab mengajak saya mengerjakan sebuah skenario film. Dia seorang pemilik toko buku yang menjual buku-buku internasional di Jakarta. Dari seorang teman lain, katanya dia seorang bola liar. Idenya bisa macam-macam, tapi pelaksanaannya, tunggu dulu. Satu peringatan lagi: dia biasa menuntut banyak tanpa mau mengeluarkan secara seimbang.

Saya sedang menimbang-nimbang. Haruskah saya ambil pekerjaan itu? Sekarang saya sedang memegang proyek sebuah novel, sebuah skenario film kolosal, proyek pribadi buku tentang film. Haruskan saya tambah? Belum lagi pekerjaan di Aceh yang sangat menyita waktu dan tenaga. Terkadang menyita mimpi saya juga. Ini pertanyaan yang sebenarnya biasa. Hanya soal membagi waktu.

Tapi ada sedikit yang mengganggu. Saya tidak pernah menjadi spesialis penulis skenario. Beberapa sahabat berkeras bahwa saya tak fokus, sehingga kemajuan saya sedikit. Mereka sebenarnya berharap saya fokus di bidang film, atau minimal penulisan skenario. Supaya ada karya lebih besar dan lebih penting yang lahir ketimbang yang sudah ada. Tapi saya selalu sulit untuk memilih. Apakah akan terus dengan pekerjaan yang rutin ataukah menghasilkan karya yang bisa bicara sendiri.

Mungkin soalnya ekonomi. Bergelut di bidang film belum bisa menjanjikan penghasilan yang jelas dan berkelanjutan. Mungkin. Tapi saya tak ingin jadi budak ekonomi. Pelacur, kata beberapa teman, sekalipun saya tak mungkin mengabaikannya.

Mari berandai-andai. Seandainya saya sepenuhnya bisa memilih dan tak ada halangan apapun untuk mewujudkan cita-cita saya menjadi penulis skenario atau menjadi pembuat film, apakah kiranya yang akan menghalangi. Tak ada? Nanti dulu. Sejak dulu proyek pribadi saya lebih banyak gagal ketimbang yang berhasil. Sekalipun sekadar menulis novel atau cerita-cerita pendek. Bisa jadi saya memang kurang perjuangan untuk "berkarya". Sampai di sini, saya iri dengan seorang sahabat saya. Dia masih berumur dua puluh tahun tapi sudah selesai dengan pilihan-pilihan macam ini. Mungkin --kalau takdir memang ada-- dia memang ditakdirkan untuk terus berkarya dan akan tercatat dengan karya-karyanya.

Enak sekali menyerahkan persoalan pada takdir. Karena dalam pilihan-pilihan macam yang saya hadapi di atas, takdir tak terlalu kelihatan. Silakan memilih, karena hidup memang memilih.

Monday, February 14, 2005

Maxim Gorky???

Maxim Gorky???

Saya sedang membaca The Life of Useless Man-nya Maxim Gorky. Buku ini sudah saya beli lama sekali. Baru sempat saya baca sekarang. Saya bawalah buku itu ke kantor. Kemudian saya keluar ruangan sebentar untuk mengambil minuman.

Ketika saya sedang keluar ruangan, seorang rekan kerja saya sedang berdiri dekat meja kerja. Dia menoleh kepada saya dengan pandangan kaget.
"You read Maxim Gorky???"
Wajahnya tampak keheranan dan agak melecehkan bacaan saya itu. Saya tak langsung menjawab.
"Ya. Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan Maxim Gorky?"
Dia membuat wajah seakan sedang menghadapi sesuatu yang menjijikan.
"Kami memulai revolusi karena ingin berhenti membaca Maxim Gorky!" katanya.
"Enough of propaganda!" kemudian dia berlalu sambil tertawa.

Revolusi apa? Tanya saya dalam hati. Kenapa Maxim Gorky jadi begitu menjijikan? Batin saya lagi. Setelah beberapa saat barulah saya tersadar sesuatu.
Teman saya itu bernama Horea Salajan. Dia seorang Rumania. Lambat sekali pikiran saya. Tentu saja Maxim Gorky jadi sesuatu yang salah dan canggung bahkan menjijikan buat orang yang mengalami rezim komunis seperti Horea. Tentu membaca Maxim Gorky adalah bagian dari pengalamannya yang ingin dikubur jauh-jauh atau ditertawakan seperti kita menertawakan kebodohan kita di masa rezim Soeharto.

Buku dan pengarangnya punya konteks ternyata. Entah kenapa saya suka lupa. Mungkin karena buku, seperti ide, adalah jejak-jejak dari langkah kaki yang mencoba mengatasi jaman. Buku mengembara ke berbagai jaman dan berbagai pikiran. Sehingga buku Maxim Gorky itu sampai ke saya dengan agak semena-mena. Lepas dari konteks waktu dan ruang, maksud saya. Tentu saya tetap punya kuasa untuk mencari konteksnya. Atau meninggalkan konteks sama sekali dan membiarkan buku itu tetap sebagai sebuah karya literer semata. Pada akhirnya memang kita, pembaca, yang menentukan. Mungkin pengarang memang sudah mati. Sekalipun bagi Horea pengarang macam Maxim Gorky sudah menjelma hantu yang menakutkan -- atau menjijikkan?